Manfaat Data Pada E-KTP Bagi Dunia Perbankan

Implementasi Elektronik KTP (e-KTP)

Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) yang sedang diterapkan di Indonesia dilengkapi dengan chip yang berisi data perorangan serta biometrik atau rekaman sidik jari. Sedangkan sistem yang digunakan untuk pengelolaan data kependudukan adalah sistem UID (Unique Identification Data), yang dikenal dengan NIK (Nomor Induk Kependudukan). Jika dibandingkan dengan KTP konvensional, keunggulan e-KTP adalah sebagai berikut:

  1. Identitas jati diri tunggal
  2. Tidak dapat dipalsukan
  3. Tidak dapat digandakan
  4. Dapat dipakai sebagai kartu suara dalam Pemilu atau Pilkada (E-voting)

Image

Gambar Struktur Contactless smart card

e-KTP yang saat ini sedang dikembangkan oleh pemerintah termasuk jenis contactless smart card. Ada beberapa faktor yang mendasari penggunaan smart card jenis ini, yaitu daya tahan yang tinggi karena letak chip yang terlindung dari kontak langsung dengan udara, air, dan zat lainnya yang bisa menyebabkan timbulnya karat merupakan salah satu alasan utama. Faktor lainnya adalah kepraktisan dalam hal pembacaan data. Data yang tersimpan dalam contactless smart card bisa dibaca oleh perangkat pembacanya dari jarak maksimal 10 cm dengan kecepatan transfer data mencapai 106-848 kbit/s tanpa harus memasukkannya ke dalam slot khusus.

Proses identifikasi data e-KTP merupakan proses autentikasi dua arah. Pada saat proses pembacaan data, sistem enkripsi bekerja untuk melidungi data yang tersimpan di dalam chip kartu elektronik sehingga data tidak mudah dicuri atau digandakan. Tanda tangan digital menjadi benteng pertahanan terakhir yang berfungsi untuk menjaga integritas data. Jika ada peretas (hacker) yang bisa menembus sistem enkripsi yang ada dan bermaksud untuk mengubah data yang tersimpan dalam chip, pencocokan tanda tangan merupakan cara ampuh untuk melakukan validasi secara manual kepemilikan kartu identitas.

Selain feature pengaman elektronik, e-KTP juga dilengkapi beberapa feature pengaman yang terdapat pada fisik kartu. Untuk menjamin keaslian e-KTP, digunakan relief text, microtext, filter image, invisible ink, dan warna yang berpendar ketika berada di bawah sinar ultra violet merupakan beberapa feature pelindung yang bisa dilihat dan dirasakan melalui sentuhan pada fisik kartu. Data kependudukan yang dilengkapi dengan ciri-ciri spesifik dan khas dari setiap orang sehingga dapat menekan jumlah kartu identitas ganda. Ciri-ciri spesifik tersebut dikenal dengan nama biometrik, yang digunakan sebagai data pada e-KTP hanya sidik jari dan retina mata.

Seiring dengan adanya kebijakan pemerintah berupa penggunaan e-KTP dan adanya konversi KTP konvensional menjadi KTP elektronik (e-KTP) yang memuat sistem pengendalian dan keamanan data baik dari sisi administrasi maupun teknologi informasi dengan berbasis pada database kependudukan nasional, maka saat ini penduduk hanya diperbolehkan memiliki 1 (satu) buah KTP sebagai identitasnya. Setiap KTP memiliki NIK (Nomor Induk Kependudukan) yang merupakan identitas tunggal setiap penduduk dan berlaku seumur hidup. NIK diberikan kepada penduduk pada saat e-KTP diterbitkan, sehingga walaupun penduduk tersebut berpindah alamat, NIK tetap (tidak berubah).

NIK terdiri dari 16 (ABCDEFDDMMYY9999) digit yang dapat diuraikan sebagai berikut :

Image

Catatan :

Untuk jenis kelamin perempuan / wanita, tanggal lahir ditambahkan dengan angka 40.

Dengan menggunakan data kode wilayah yang ada di Kemendagri, NIK yang dimiliki seseorang dapat dibuktikan keasliannya dengan program sederhana (misalnya Microsoft Excel). Sebagai contoh, NIK  1101011310780010, akan didapat data sebagai berikut :

Image

Jika kode provinsi, kode kabupaten / kota atau kode kecamatan salah, dapat diduga bahwa NIK tersebut adalah palsu. Begitu pula dengan tanggal lahir dan pembedaan jenis kelamin seseorang.

NIK yang dimiliki oleh setiap penduduk pada masa yang akan datang dijadikan juga menjadi dasar dalam penerbitan Paspor, Surat Izin Mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Polis Asuransi, Sertifikat atas Hak Tanah dan penerbitan dokumen identitas lainnya (Pasal 13 UU No. 23 Tahun 2006 tentang Admin Induk).

Image

Gambar Link Database e-KTP

Manfaat Data Pada e-KTP Bagi Perbankan

Duplikasi data nasabah kerap terjadi pada perbankan, walalupun Bank Indonesia telah menegaskan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/28/PBI/2009 terkait dengan Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum, pada Pasal 41 ayat 2) “bahwa setiap bank wajib memiliki dan memelihara profil Nasabah secara terpadu (Single Customer Identification File)”

Banyak hal yang dapat menjadi penyebab terjadinya duplikasi, antara lain karena penyampaian nomor dan jenis identitas yang tidak konsisten sehingga menyebabkan over service terhadap nasabah. Selain itu ketidaksesuaian data nasabah dengan data yang tertera pada kartu identitas serta pengisiannya pada sistem core banking yang tidak sesuai dengan standar data perbankan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dapat menjadi penyebab lainnya.

Saat ini masih ada beberapa pilihan jenis identitas yang digunakan pada saat pembukaan rekening dan CIF baru menjadi salah satu faktor terjadinya duplikasi CIF. Seperti pilihan penggunaan jenis identitas KTP dan SIM untuk WNI berusia diatas 17 tahun, Paspor dan KITAS/KITAP untuk WNA, serta Akta Lahir dan Kartu Pelajar untuk nasabah perorangan berusia dibawah 17 tahun.

Selain banyaknya pilihan jenis identitas, waktu standar layanan yang cukup singkat juga memungkinkan terjadinya human error dalam pengisian data nasabah, sehingga menyebabkan data yang tersimpan tidak akurat.

Faktor eksternal yang dapat menyebabkan duplikasi CIF dan tidak akuratnya data adalah beredarnya identitas palsu. Keaslian identitas nasabah adalah sangat penting karena berhubungan erat dengan prinsip mengenal nasabah (Know Your Customer) sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No. 11/28/PBI/2009.

Sistem pembuatan KTP nasional secara konvensional di Indonesia selama ini memungkinkan seseorang dapat memiliki lebih dari satu KTP. Hal ini disebabkan belum adanya suatu basis data terpadu yang dapat menghimpun data penduduk dari seluruh Indonesia. Fakta tersebut memberi peluang kepada penduduk yang ingin berbuat jahat dan curang dalam hal-hal tertentu dengan menggandakan KTP-nya, misalnya dapat digunakan untuk :

  1. Menghindari pajak
  2. Memudahkan pembuatan paspor yang tidak dapat dibuat diseluruh kota
  3. Mengamankan hasil korupsi (dalam bentuk money laundring)
  4. Menyembunyikan identitas (seperti teroris), dll.

Selain itu penggandaan KTP juga disebabkan akibat dari perubahan domisili dari penduduk tersebut, sehingga orang yang sama dapat memiliki dua KTP dengan identitas yang berbeda karena dibuat di daerah yang mengeluarkan KTP berbeda. Hal ini dapat memicu terjadinya Customer Identification File (CIF) ganda pada sistem data nasabah.

Seiring dengan berlakunya elektronik KTP (e-KTP) yang digunakan secara nasional dengan Nomor Identitas Kependudukan (NIK) tunggal, yaitu satu penduduk dengan satu NIK serta dilengkapi chip yang tertanam pada e-KTP yang berisi data penduduk dapat dimanfaatkan untuk mencegah terjadinya duplikasi data nasabah dan untuk mendapatkan data nasabah yang lebih akurat. Untuk dapat membaca data yang ada pada chip e-KTP diperlukan sebuah mesin pembaca (reader).

Pemilihan e-KTP sebagai jenis identitas tunggal dalam pembukaan rekening baru untuk nasabah WNI yang telah berumur 17 tahun atau lebih atau yang telah menikah didasarkan pada beberapa hal, yaitu :

  1. Nomor e-KTP sama dengan nomor NIK sehingga tidak akan ada nomor yang duplikat.
  2. Data yang terdapat dalam e-KTP sesuai dengan data yang terdapat dalam NIK.
  3. Dari semua identitas kependudukan (e-KTP, Paspor, Surat Izin Mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dll), e-KTP adalah identitas penduduk yang datanya paling lengkap, jelas, dan valid.

Image

Gambar Proses Pembacaan data dari e-KTP

Pembacaan data e-KTP akan menjadi dasar untuk mencegah duplikasi data nasabah perorangan pada sistem core banking. Data yang berhasil dibaca oleh perangkat pembaca akan ditransformasi ke dalam sistem core banking dan ditampilkan dalam layar detail nasabah. Transformasi ini akan menghasilkan informasi yang akurat sesuai data identitas e-KTP, sehingga tidak lagi ditemukan data yang tidak sesuai identitas dan sudah merupakan data bersih. Selain itu data sidik jari dan scan retina mata yang terdapat dalam data e-KTP dapat membuktikan keaslian dan kesesuain kepemilikan identitas.

Dengan adanya data elektronik dalam chip e-KTP yang mampu terbaca oleh perangkat pembaca, maka nasabah tidak perlu lagi mengisi formulir identitas diri karena data yang terbaca dapat langsung terhubung dengan sistem core banking. Setelah mencocokkan data antara data pada e-KTP dengan sistem core banking, sistem dapat mengetahui apakah nasabah tersebut sudah mempunyai CIF atau belum. Jika belum, maka sistem otomatis akan membuat CIF berdasarkan data yang ada pada e-KTP dan dilanjutkan dengan membuat rekening. Jika didapati nasabah sudah memiliki CIF, proses dilanjutkan dengan pembukaan rekening. Formulir pembukaan rekening yang harus diisi oleh nasabahpun hanya sebatas keperluan untuk pembukaan rekening saja. Dengan metode ini pelayanan terhadap nasabah dapat dilakukan lebih cepat dan data nasabah yang diperoleh lebih akurat.

Dengan memiliki data nasabah yang akurat, akan memberikan keuntungan pada suatu bank dalam rangka mengembangkan strategi pemasaran, propensity model, memberikan pelayanan yang lebih baik kepada nasabah, pelaporan-pelaporan kepada regulator, serta keuntungan-keuntungan lainnya.

Image

Gambar  Ilustrasi Pembacaan data chip e-KTP pada saat pembukaan CIF baru

Tantangan Implementasi Pemanfaatan Data e-KTP

Untuk dapat mengimplementasikan pemanfaatan data pada e-KTP ini, kendala yang harus dihadapi adalah pengadaan perangkat pembaca chip e-KTP. Untuk berkomunikasi antara kartu dan reader ataupun writer, pembacaan data dan informasi e-KTP menggunakan frekuensi radio (RFID – Radio Frequency Identification). Sinyal yang digunakan mempunyai frekuensi 135 kHz atau 13.56 MHz. Apabila dalam penggunaannya menggunakan frekuensi rendah, maka energi dan kecepatan transfer data rendah, sedangkan jika menggunakan frekuensi tinggi, maka akan menggunakan energi lebih tinggi dan kecepatan transfer data tinggi. Standar komunikasi (protocols) dari e-KTP adalah ISO/IEC 14443 yang mampu melakukan komunikasi hingga radius 10 cm (Purwoko,2012).

Untuk menyediakan perangkat pembaca diperlukan alat yang sesuai dengan standar komunikasi e-KTP dan membutuhkan investasi cukup besar (belum dapat diperkirakan pada saat ini)

Selain kendala investasi, penggunaan e-KTP yang belum merata secara nasional menyebabkan sistem ini belum dapat diberlakukan secara nasional. Namun sebagai bahan uji coba, sistem ini dapat diterapkan di daerah yang telah memberlakukan e-KTP secara menyeluruh.

Sumber : www.e-ktp.com ; www.depdagri.go.id

This entry was posted in Data Quality and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s