Kualitas Data Nasabah untuk Memenuhi Prinsip KYC dan Meningkatkan Pendapatan

Seperti kita ketahui, pentingnya Prinsip Mengenal Nasabah (KYC) membuat Bank Indonesia (BI) menyusun peraturan Nomor 5/21/PBI/2003 tanggal 17 Oktober 2003 tentang prinsip mengenal nasabah yang telah dicabut dan digantikan dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/28/PBI/2009 terkait dengan Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum.

Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan Bank Indonesia, Wimboh Santoso mengatakan bahwa pembuat peraturan menyadari jika bank akan selalu menghadapi risiko dalam menjalani bisnisnya. Untuk membantu bank dalam mengantisipasi risiko, dalam Bab 3 Pasal 12, disebutkan jika “bank wajib mengidentifikasi dan mengklasifikasikan calon nasabah atau nasabah ke dalam kelompok perseorangan, perusahaan atau Beneficial Owner.”

Implementasi prinsip KYC sangat penting untuk diterapkan di bank dalam rangka mencegah pencucian uang dan pendanaan teroris; berbagai risiko seperti risiko operasional, risiko hukum, risiko konsentrasi dan risiko reputasi.

Selain itu, banyaknya kasus penipuan perbankan yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia memicu Bank Indonesia, sebagai pembuat kebijakan industri perbankan untuk mengevaluasi perbaikan internal dan peraturan bank. Salah satu fokus BI adalah memperkuat implementasi prinsip KYC karena implementasi tersebut dapat membantu perusahaan jasa keuangan dan bank untuk mengawasi nasabah yang memiliki transaksi keuangan mencurigakan.

 

Pentingnya KYC untuk Meningkatkan Pendapatan

Dalam industri bank, prinsip KYC tidak boleh dianggap sepele. Prinsip KYC  semestinya dipahami secara mendalam. Mengenali nasabah tidak cukup hanya sekadar meminta untuk menunjukkan KTP asli nasabah. Mengenali nasabah berarti bank tahu betul siapa nasabahnya itu, bagaimana kemampuan ekonominya, sumber kekayaannya, jenis pekerjaannya dan juga karakter investasinya.

Prinsip “Know Your Customer” atau KYC memang sejatinya digunakan untuk memenuhi aspek kepatuhan bank kepada Bank Indonesia (BI), namun jika prinsip KYC tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis dan pemasaran maka akan dapat meningkatkan pendapatan bagi bank.

Bagaimana caranya agar bank dapat memanfaatkan prinsip KYC guna  mematuhi peraturan Bank Indonesia dan sekaligus meningkatkan pendapatan? Hal ini merupakan pemikiran yang masih jarang terlintas oleh tiap pelaku industri perbankan dan asuransi. Jawabannya sangatlah mudah. Bank dapat mengimplementasikan Single Customer View (SCV), yang memberikan pandangan terintegrasi tentang perilaku,kebutuhan dan risiko nasabah.

Menurut Theodorus Wiryawan, Chief Marketing Officer PT. Asuransi CIGNA mengatakan melalui SCV, selain mematuhi peraturan Bank Indonesia, bank dan perusahaan asuransi dapat menjaga hubungan nasabah secara efektif cross-sell dan up-sell layanan dan produknya untuk memberikan penawaran produk yang tepat dan juga mengatur risko yang terkait dengan nasabah.

Sementara itu, pentingnya KYC untuk meningkatkan bisnis juga ditunjukkan pada penelitian yang dilakukan oleh Businessweek Research Services. Para eksekutif juga sepakat bahwa informasi yang akurat sangat penting untuk mendukung berkembangnya bisnis secara efektif.

Erwin Sukiato, Country Manager SAS Indonesia mengatakan bahwa untuk dapat meraih target pendapatan bisnis, implementasi prinsip KYC dapat di integrasikan dengan kampanye marketing. Platform terintegrasi dapat membantu para staf marketing untuk melakukan investasi langsung kepada nasabah yang memiliki kemampuan dan kecenderungan untuk memberikan keuntungan secara jangka panjang.

Untuk membantu perusahaan dalam meningkatkan target, terdapat tiga langkah yang perlu dilakukan oleh perusahaan.

  1. Memperdalam wawasan terhadap nasabah dengan mengatur kualitas data nasabah di mana implementasi KYC menjadi salah satu solusinya.
  2. Menyusun interaksi nasabah dengan mengatur dan mengoptimalkan strategi.
  3. Memperbaiki hasil marketing secara berkelanjutan dengan pengukuran dan pelaporan hasil.

 

Saat ini, hampir semua bank menawarkan jenis produk yang sama dengan tingkat kualitas yang juga sama. Manfaat mengetahui nasabah secara lengkap adalah, karena staf marketing tidak dapat memprediksi apa yang akan dibeli nasabah dan memaksa mereka untuk mengambil apa yang ditawarkan, namun kita tidak memiliki gambaran jelas tentang apa yang sudah mereka beli sebelumnya.

Agar dapat menawarkan produk yang berbeda dari pesaing, pihak bank dituntut untuk mengerti lebih detail lagi siapa nasabahnya, dan model macam apakah nasabahnya?

Dengan menggunakan KYC, bank diminta untuk lebih mengenal CRM (customer relationship management) secara keseluruhan, yang secara prinsip dapat dipilih beberapa poin sebagai berikut:

  • Mengenal siapa nasabahnya sebenarnya?
  • Segmen mana yang menjadi nasabah setia?
  • Karakter seperti apa yang menjadi nasabahnya, baik yang loyal maupun biasa?
  • Tersebar di daerah mana saja nasabahnya?
  • Berapa usia nasabah utama?
  • Lebih banyak pria atau wanita sebagai nasabah utama?
  • Apakah nasabah suka memberitakan manfaat produk yang digunakan?

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang terkait dengan customer.

Pada intinya adalah setiap bank seharusnya mengerti dan mengenal nasabah secara mendalam untuk dapat meningkatkan pendapatan perusahaan, karena para nasabah itulah darahnya bank.

 

Kualitas Data Nasabah

Untuk dapat mendukung pemenuhan prinsip KYC dan meningkatkan pendapatan, tak bisa dipungkiri lagi bahwa kualitas data yang baik sangat dibutuhkan oleh sebuah perusahaan. Perusahaan besar pasti memiliki jumlah data nasabah yang besar pula. Dapat dibayangkan betapa sulitnya menjaga kualitas data yang sedemikian besar, karena kualitas data nasabah dapat meluruh seiring waktu, walaupun menggunakan aplikasi software terbaik, Hal ini disebabkan bukan karena aplikasi, tetapi karena sifat data itu sendiri. Nasabah dan data bisnis sering berubah karena sifatnya bergerak, sehingga menyebabkan perubahan nama, nomor identitas, alamat dan nomor telepon. Tingkat perubahan yang cepat dari data nasabah tersebut menimbulkan masalah pada kualitas data. Untuk memenuhi kualitas data yang baik, ada beberapa prinsip kualitas data yang harus dipenuhi, yaitu :

  • Akurat  (dalam istilah ketepatan dan kebenaran)
  • Komperhensif (semua informasi yg relevan sudah tercapture)
  • Valid (dalam format yang sudah standar)
  • Tersedia ketika dibutuhkan dan up to date
  • Disimpan pada tempat yang aman
  • Dapat dimaintain

 

Kualitas data nasabah atau CIF (Customer Information File) sangat  bergantung pada petugas yang melakukan input / entry data. Diperkirakan sekitar 40% data yang diinput secara manual tidak benar atau tidak lengkap. Banyak bank yang memiliki sistem pengolahan inti seperti simpanan, kredit dan kartu kredit tidak terhubung ke dalam satu CIF. Kualitas data yang kurang baik tentu akan menjadikan hambatan utama dalam mencapai tujuan bisnis.

Kebanyakan orang IT dan orang bisnis memahami bahwa kualitas data yang buruk adalah masalah bisnis. Penelitian menunjukkan bahwa sampai 25% dari data dalam sebuah bank rata-rata CIF nya adalah tidak benar. Kesalahan dalam data nasabah menyebabkan banyak masalah yang berdampak bottom line pada sebuah bank. Beberapa dari masalah ini mudah untuk dipahami dan diukur. Sebagai contoh, alamat tidak benar meningkatkan biaya pengiriman surat untuk bank. Bayangkan jika sebuah bank yang mengirimkan surat promosi sebanyak 1 juta buah per tahun dengan tingkat kesalahan 25%, berapa biaya yang akan terbuang percuma.

Biaya dan pendapatan yang hilang akibat dari kualitas data yang buruk sering kali tidak terlihat jelas. Masalah kualitas data memicu reaksi berantai dalam proses bisnis suatu bank. Sebagai contoh, data yang buruk membuat pelanggaran privasi menjadi lebih mungkin terjadi. Menghubungi orang yang salah karena data yang salah dapat menyebabkan biaya terbuang percuma. Pada skala yang lebih besar, masalah kualitas data dapat menyebabkan para bankir membuat keputusan yang salah baik taktis dan strategis yang mengakibatkan kehilangan pelanggan dan penurunan profitabilitas.

 

Apa Yang Mendorong Kualitas Data

Sejumlah besar kegagalan proyek CRM telah menunjukkan kebutuhan yang jelas untuk memperbaiki masalah kualitas data. Data menyediakan landasan untuk membangun kemampuan dan mencapai tujuan bisnis, karena itu, kualitas data terbaik yang diperlukan. Bagian dari landasan ini adalah kemampuan untuk melihat tampilan lengkap dari nasabah (single customer view).

Untuk memahami profil sepenuhnya dari hubungan dengan nasabah, kita harus dapat menghubungkan semua account milik individu serta mengidentifikasi hubungan lainnya yang mungkin ada, misalnya kita harus tahu siapa di dalam struktur bisnis yang dimiliki oleh nasabah, dimana nasabah melakukan sebagian besar bisnisnya, dan produk apa yang telah dimiliki oleh nasabah. Sayangnya, informasi nama dan alamat, yang merupakan elemen kunci untuk menghubungkan seluruh account, sering tidak konsisten dalam penginputannya, sehingga kualitas data yang dihasilkan menjadi tidak baik.

Penting juga untuk dipahami bahwa data adalah target yang bergerak. Pelanggan terus-menerus mengubah informasi kunci ketika mereka bergerak, seperti menikah, merubah nama, nomor telepon, alamat rumah atau alamat email. Kompleksitas dalam informasi alamat seperti nama jalan dan perubahan kode pos akan lebih memperumit masalah.

 

Melihat Secara 360° (Single View Customer)

Selama bertahun-tahun industri jasa keuangan telah berbicara tentang perlunya untuk melihat 360° atau Single View Customer dari nasabah. Tujuannya adalah untuk menyajikan gambaran yang lengkap, konsisten, dan benar dari nasabah untuk kepentingan bisnis

Meskipun ini merupakan konsep yang sangat sederhana, namun sangat sulit untuk mengimplementasikannya karena masalah kualitas data dan kurangnya pemahaman pemenuhan syarat-syarat kualitas data yang baik. Single View Customer hanya dapat dicapai dengan data yang bersih.

Untuk dapat melihat profil nasabah secara utuh, dibutuhkan syarat-syarat sebagai berikut :

1. Lengkap

Melihat secara 360° nasabah harus dilakukan secara lengkap. Artinya, kita harus memiliki semua data yang relevan tentang nasabah. Banyak bank menghitung profitabilitas dan nilai hubungan nasabah hanya didasarkan pada produk inti, padahal nasabah memiliki produk lainnya.

2. Konsisten

Melihat secara 360° nasabah juga harus dilakukan secara konsisten. Semua orang harus melihat nasabah dengan cara yang sama, misalnya melihat suatu proses analitis untuk delivery channel ritel, semua informasi yang sama tentang nasabah harus digunakan.

3. Benar

Pandangan 360° nasabah harus benar untuk semua proses bisnis. Suatu proses bisnis perlu melihat perspektif yang lebih luas.

 

Membangun Konstruksi Single View Customer (SVC)

Kunci untuk membangun SVC tidak terletak pada aplikasi tertentu, tetapi terletak pada data itu sendiri. Data identitas nasabah menjadi ukuran umum terendah di semua sumber data. Nama maupun alamat bisnis nasabah, nomor telepon, alamat email, SSN atau NPWP, tanggal lahir, dan nomor SIM semua dapat digunakan untuk membuat SVC. Hal ini lebih dari sebuah proses sepele karena masing-masing elemen data memiliki masalah sendiri karena dapat berisi data yang kotor.

Nama dan alamat dari suatu aplikasi perbankan juga mengandung rincian penting yang dibutuhkan untuk menghubungkan pelanggan individu maupun bisnis. Menemukan dan menggunakan indikator hubungan seperti “dan”, “atau”, “melakukan bisnis sebagai”, atau “custodial” adalah bagian penting dari proses membangun sebuah SVC.

Adalah hal yang sangat penting untuk menyadari bahwa pandangan 3600 adalah untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai pandangan ini, menggunakan data pelanggan secara bijaksana merupakan suatu langkah yang sangat penting.

SVC harus dapat digunakan dalam proses hilir untuk benar-benar mempengaruhi kinerja bisnis. Penjualan, layanan pelanggan, analisis profitabilitas, hubungan perbankan, fraud, dan proses resiko semua bisa secara dramatis meningkatkan kinerja bisnis melalui gambaran yang lengkap, konsisten, dan benar dari data nasabah.

 

 Sumber : http://www.insightecosystems.com dan sumber lainnya

This entry was posted in Data Quality and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Kualitas Data Nasabah untuk Memenuhi Prinsip KYC dan Meningkatkan Pendapatan

  1. derist says:

    Nice article…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s