Satu Nasabah Satu CIF Saja

Merujuk pada Peraturan Bank Indonesia No. 14/27/PBI/2012 tanggal 28 Desember 2012 tentang Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme Bagi Bank Umum dan Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) 15/21/DPNP tanggal 14-06-2013 tentang Pedoman Standar Penerapan Program APU dan PPT Bagi Bank Umum, khususnya Bab V Sistem Manajemen Informasi Pasal 43 ayat 2 disebutkan bahwa :

Bank wajib memiliki dan memelihara profil Nasabah secara terpadu (Single Customer Identification File), paling kurang meliputi informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, Pasal 17 dan Pasal 18 ayat (1).

Dengan adanya ketentuan ini, maka setiap bank harus mengelola satu CIF (Customer Information File) untuk setiap nasabah, baik perorangan maupun non perorangan. Namun faktanya banyak terjadi duplikasi CIF yang dapat menyebabkan tidak akuratnya profile nasabah yang dimiliki.  Adanya duplikasi CIF ini juga menyebabkan unit-unit bisnis mengalami kesulitan dalam melakukan monitoring portfolio nasabahnya, termasuk juga unit yang mengelola profil risiko nasabah.

Ada beberapa alasan yang menjadi penyebab terjadinya duplikasi CIF, antara lain :

1. Faktor kesengajaan yang dilakukan oleh petugas Customer Service atau atas permintaan pemasar.

2. Faktor kekurangpahaman dalam memahami proses pembuatan CIF.

3. Faktor aplikasi dalam pembuatan rekening secara bulk / kolektif.

4. Faktor teknologi yang mungkin menyebabkan kesulitan dalam pencarian CIF yang sudah ada.

 

Lalu bagaimana jika sudah terjadi duplikasi CIF? Pihak bank harus melakukan upaya penyatuan CIF berdasarkan ketentuan-ketentuan yang dapat dibuat oleh pihak bank sendiri.

 

Mengapa CIF Perlu Disatukan?

Tujuan penyatuan CIF adalah untuk memenuhi aspek kepatuhan terhadap ketentuan Bank Indonesia seperti yang telah disebutkan di atas. Disamping itu, penyatuan CIF bertujuan untuk :

1. Menghasilkan informasi yang lengkap tentang nasabah (single view customer / customer view 360o) untuk menunjang program customer centric.

2. Mendukung pengambilan keputusan secara akurat dan cepat.

3. Meningkatkan akurasi pengukuran kinerja pemasaran.

4. Mengurangi biaya yang timbul baik dari sisi pengelolaan system informasi, operasional maupun sumber daya manusia akibat duplikasi pekerjaan (pengkinian data, pengiriman rekening koran, pelaporan, dll.).

5. Mengurangi konflik antara unit/pihak yang berkepentingan terhadap data CIF.

 

Penyatuan CIF Memerlukan Upaya Yang Besar

Untuk dapat melakukan penyatuan CIF diperlukan upaya (effort) yang cukup besar, baik dari sisi teknologi, SDM maupun prosesnya. Yang pertama dilakukan adalah menentukan CIF mana yang akan dipertahankan (survive). Kemudian juga dilakukan mitigasi risiko yang mungkin akan terjadi. Kemudian dalam pelaksanaannya juga harus dilakukan secara cermat dan hati-hati, karena jika tidak hati-hati bisa saja terjadi kesalahan penyatuan yang mengakibatkan adanya complaint dari nasabah.

Pelaksanaan penyatuan CIF oleh Customer Service mungkin saja dapat dilakukan di sela-sela kesibukannya melayani nasabah atau ketika tidak ada nasabah. Namun jika harus dilakukan diluar jam kantor atau bahkan hari libur, tentunya akan memerlukan biaya tambahan untuk biaya lembur, operasional dll.

 Image

CIF Konvensional dan CIF Syariah

Jika suatu bank menyelenggarakan unit syariah dengan menggunakan sistem aplikasi yang sama, bagaimana pengaturannya?

Pada Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) 15/21/DPNP tanggal 14-06-2013 tentang Pedoman Standar Penerapan Program APU dan PPT Bagi Bank Umum, khususnya pada Lampiran Bab XII Butir 10, disebutkan bahwa :

 “Dalam hal terdapat Nasabah yang selain tercatat sebagai Nasabah pada Bank Umum Konvensional juga tercatat sebagai Nasabah pada Unit Usaha Syariah dari Bank yang sama, maka Nasabah tersebut memiliki 2 (dua) CIF yang berbeda.”

Merujuk pada ketentuan di atas, maka CIF konvensional dan CIF harus dipisahkan walalupun menggunakan aplikasi yang sama, sehingga jika seorang nasabah mempunyai CIF pada bank konvensional dan CIF syariah pada bank yang sama dapat dikatakan CIF tersebut tidak duplkat.

Lalu bagaimana jika sudah terjadi pencampuran rekening konvensional dan syariah pada CIF konvensional atau  CIF syariah? Jika terjadi hal seperti ini , maka harus dilakukan upaya pemisahan rekening pada CIF konvensional dan CIF syariah. Rekening konvensional hanya boleh dikaitkan pada CIF konvensional. Begitu juga dengan rekening syariah, hanya boleh dikaitkan dengan CIF syariah.

 Image

Semoga bermanfaat

This entry was posted in Data Quality and tagged . Bookmark the permalink.

3 Responses to Satu Nasabah Satu CIF Saja

  1. Ela says:

    Trims infonya.🙂

  2. siti says:

    jika boleh saya tau, kode CIF merupakan kombinasi / rincian dari kode apa saja ya?? dan biasanya

  3. iie says:

    Jika seorang nasabah sudah tutup rekening kemudian dikemudian hari/beberapa tahun kemudian membuka rekning lagi apakah dibuatkan CIF baru atau memakai CIF yang lama?
    terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s